Ada seorang dosen S2 di Fakultas Psikologi yang sangat inspiratif. Namanya Prof Udin. Suatu hari sepeda motornya dipinjam orang untuk suatu keperluan.
Namun anehnya sampai beberapa hari kok tak kunjung dikembalikan. Maka diutuslah seseorang untuk menanyakannya…..Beberapa puluh menit kemudian utusan tersebut datang dengan wajah sedih dan agak ketakutan…..
“Ada apa mas, kok wajahmu bentuknya aneh gitu…?” tanya Pak Udin
“Eh…anu pak…eh maaf….sepeda motor Bapak dihilangkan sama itu orang yang minjam…..dicuri orang katanya….” jawab utusan tersebut mencoba beremphati.
Saudara, kira2 apa yang dilakukan oleh dosen tersebut?
Marah-marah? Itu sudah umumnya
Lapor ke polisi? Itu biasanya langkah selanjutnya
Minta ganti? itu langkah komprominya kalau orang yg menghilangkan motor tidak ingin dimasukkan ke penjara.
Namun, Anda boleh untuk tidak percaya….Pak dosen tadi ternyata mengikhlaskannya….dan didatangilah rumah orang yang menghilangkan sepeda motornya…..
“Jangan takut pak….!” sergahnya begitu melihat orang yang menghilangkan sepeda motornya terlihat memelas sambil ketakutan.
“Namanya hilang mau diapakan lagi, biar polisi yang nyari. Kalau tidak ketemu,ya…..mungkin bukan rizqi saya,” kata-katanya bijak berusaha menenangkan suasana. Akhirnya mereka terlibat pembicaraan yang cukup asyik tentang banyak hal dalam kehidupan…..Tentang kejujuran, kesungguhan, tanggungjawab, dll.
“Ini saya ada sedikit uang, saya lihat Bapak memerlukannya untuk menghidupi keluarga Bapak,” kata Prof Udin mengakhiri silaturrahmi tersebut. Kewibawaan dan ketulusannya menjadikan si tuan rumah tak kuasa menolak.
Beberapa hari kemudian, Prof Udin akhirnya dapat kontrak sebagai konsultan lepas sebuah perusahaan swasta, dengan fee sebesar 10 kali lipat harga sepeda motornya yang hilang.
Saudara, mungkin Anda tidak percaya….TAPI INI KISAH NYATA….
Hikmah;
Kepada orang-orang yang tertimpa musibah, sesungguhnya tak ada sesuatu pun yang hilang dari kalian. Kalian justru beruntung, karena Allah selalu menurunkan sesuatu kepada para hamba-nya dengan "surat ketetapan" yang di sela-sela huruf kalimatnya terdapat suatu kelembutan, empati, pahala, ada balasan, dan juga pilihan. Maka dari itu, siapa saja yang tertimpa musibah yang hebat ataupun kecil, ia harus menghadapinya dengan sabar, mata yang jernih dan pola pikir yang panjang serta ikhlas. Dengan begitu, ia akan menyaksikan bahwa buah manis dari musibah itu adalah Kemuliaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar